Senin, 18 November 2019

Karies Gigi Pada Lansia












1.      Karies Gigi



Hasil gambar untuk gambar karies gigi lansia


            Karies gigi berasal dari bahasa latin yang artinya lubang gigi. Hal ini ditandai dengan rusaknya email dan dentin secara progresif yang disebabkan oleh aktivitas metabolisme bakteri dan plak. Karies adalah penyakit infeksi pada gigi yang paling sering terjadi pada dewasa muda dan tua sehingga apabila tidak dirawat maka akan bertambah buruk dan dapat menimbulkan rasa sakit yang berpotensi menyebabkan kehilangan gigi. Karies gigi merupakan proses demineralisasi yang disebabkan oleh suatu interaksi antara mikroorganisme,ludah,bagian-bagian yang berasal dari makanan dan email. Karies gigi memliki dampak yang luas, meliputi keterbatasan fungsi, rasa sakit fisik,ketidaknyamanan psikis, disabilitas fisik, psikis dan sosial.
            Penyakit ini bersifat progresif dan jika tidak diobati maka dapat berkembang sampai ke pulpa dan lubang yang telah terbentuk tidak dapat diperbaiki kembali oleh tubuh melalui proses penyembuhan dan menyebabkan peradangan pada pulpa gigi sehingga menimbulkan rasa sakit dan ketidak nyamanan dan bahkan sampai kehilangan vitalitas kemudian kehilangan gigi.
            Pada lansia masalah kesehatan gigi dan mulut yang sering terjadi,yaitu karies gigi.Karies gigi pada lansia merupakan masalah utama kesehatan gigi dan mulut di berbagai negara.Di Indonesia berdasarkan Riskesdes tahun 2007 karies gigi menyerang 90,90% penduduk dengan DMFT sebesar 6,44.Peningkatan karies sangat erat kaitannya dengan bertambahnya umur seseorang

2.  Penyebab karies gigi pada lansia
Penyebab karies gigi dipengaruhi oleh faktor yaitu host, agent, dan environment serta waktu atau lamanya proses interaksi antar faktor tersebut.
v  .Host (Gigi )
Morfologi setiap gigi manusia berbeda-beda, permukaan oklusal gigi memiliki lekuk dan fissur yang bermacam-macam dengan kedalaman yang berbeda-beda.Gigi dengan lekukan yang dalam merupakan daerah yang sulit dibersihkan dari sisa makanan yang melekat sehingga plak akan mudah berkembang dan dapat menyebabkan karies gigi.
Karies gigi sering terjadi pada permukaan gigi yang spesifik. Karies pada gigi permanen ditemukan pada permukaan pit dan fissure.Kawasan gigi yang memudahkan perlekatan plak sangat mungkin diserang karies. Kawasan-kawasan yang mudah diserang karies tersebut, yaitu :
a. Pit dan fissur pada permukaan oklusal molar dan premolar,pit bukal molar,dan pit palatal insisivus.
b. Permukaan halus didaerah approksimal sedikit dibawah titik kontak.
c. Email pada tepian didaerah leher gigi sedikit diatas tepi gingival.
d. Permukaan akar yang terbuka yang merupakan daerah tempat melekatnya plak pada pasien dengan resesi gingiva karena penyakit periodontium.
e. Tepi tumpatan terutama yang kurang atau mengemper.
f. Permukaan gigi yang halus yang berdekatan dengan gigi tiruan atau jembatan.
v  Agent ( Mikroorganisme )
Mikroorganisme sangat berperan menyebabkan karies. Streptococcus mutans dan Lactobacillus merupakan 2 dari 500 bakteri yang terdapat pada plak gigi dan merupakan bakteri utama penyebab terjadinya karies. Plak adalah suatu massa padat yang merupakan kumpulan bakteri yang tidak terkalsifikasi, melekat erat pada permukaan gigi, tahan terhadap pelepasan dengan berkumur atau gerakan fisiologis jaringan lunak. Plak akan terbentuk pada semua permukaan gigi dan tambalan. Perkembangannya paling baik pada daerah yang sulit untuk dibersihkan, seperti daerah tepi gingival, pada permukaan proksimal dan di dalam fisur. Bakteri yang kariogenik tersebut akan memfermentasi sukrosa menjadi asam laktat yang sangat kuat sehingga mampu menyebabkan demineralisasi
v  Environment

Lingkungan gigi terdiri dari saliva. Dalam keadaan normal, gigi selalu di basahi oleh saliva karena kerentanan gigi terhadap karies banyak bergantung pada lingkungannya maka peran saliva sangat besar.Saliva mampu meremineralisasikan karies yang masih dini karena banyak mengandung ion kalsium dan fosfat.  Kemampuan saliva dalam melakukan remineralisasi meningkat jika ada ion fluor. Selain mempengaruhi komposisi mikroorganisme di dalam plak, saliva juga mempengaruhi pHnya. Kaerena itu, jika aliran saliva berkurang atau menghilang maka karies mungkin akan  tidak terkendali
3. Waktu
Karies merupakan penyakit yang berkembangnya lambat dan keaktifannya berjalan bertahap serta merupakan proses dinamis yang ditandai oleh periode demineralisasi dan remineralisasi. Kecepatan karies anak-anak lebih tinggi di bandingkan dengan kecepatan kerusakan gigi orang dewasa. Pada lansia penyebab karies gigi terjadi disebabkan oleh beberapa hal, yaitu penyakit sistemik, berkurangnya produksi air ludah dan lebih lama terpapar makanan dan minuman manis dalam proses pengunyahan yang dapat menyebabkan kerusakan gigi semakin banyak dan semakin parah.


4. Karies gigi pada lansia
Seiring dengan meningkatnya usia seseorang, maka jumlah karies gigi pun semakin meningkat. Hal ini dapat disebabkan karena pada lansia biasanya terjadi penurunan tingkat kebersihan gigi sehingga masalah kesehatan gigi pada lansia, seperti penyakit karies gigi semakin meningkat.  Mayoritas karies gigi pada lansia, yaitu karies akar.
5. Pengukuran karies gigi
Pengukuran karies gigi terdiri dari indeks DMF-T (Decay Missing Filled Teeth) untuk gigi permanen, indeks RCI (Root Caries Indeks) untuk mengukur karies akar, dan indeks UTN untuk melihat kebutuhan perawatan.
1. Indeks DMF-T (Decay Missing Filled Teeth).
Indeks DMF-T merupakan indeks yang digunakan pada gigi permanen untuk menunjukkan banyaknya gigi yang terkena karies. D (Decayed) merupakan lubang pada gigi akibat dekalsifikasi jaringan email gigi yang terlihat keputih-putihan atau kecoklatan dengan ujung sonde terasa menyangkut pada kavitas dan M (Missing) merupakan hilangnya gigi permanen karena telah tanggal atau dicabut, maupun karies gigi permanen yang diindikasikan untuk pencabutan, seperti jika mahkota gigi tidak ada atau hanya tinggal akar sedangkan F (Filling) merupakan tambalan atau tumpatan pada gigi permanen baik secara tetap maupun berupa tambalan sementara
2.   Indeks RCI ( Root Caries Indeks )
Indeks RCI ( Root Caries Indeks ) merupakan indeks untuk mengukur karies akar. Kriteria penilaiannya, adalah
1. jika utuh dengan akar terbuka ;
2 jika akar gigi yang mengalami karies ;
     3 jika akar gigi yang ditumpat mengalami karies ;
4 jika akar gigi yang ditumpat tidak mengalami karies ;
5 jika sisa akar dan 6 jika akar gigi yang tidak terpapar.
3. Indeks UTN
Indeks UTN merupakan indeks untuk melihat kebutuhan perawatan dalam suatu populasi.
UTN  =  Rerata D x 100%
Rerata D + Rerata F
6.  Kualitas hidup
Kualitas hidup menurut World Health Organization (WHO) merupakan persepsi seseorang dalam konteks budaya dan norma yang sesuai dengan tempat hidup orang tersebut serta berkaitan dengan tujuan, harapan, standar dan kepedulian selama hidupnya. Kualitas hidup pada lansia dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain status kesehatan mulut.

Kualitas hidup lansia merupakan suatu komponen yang kompleks mencakup usia harapan hidup, kepuasan dalam kehidupan, kesehatan psikis dan mental, fungsi kognitif, kesehatan dan fungsi fisik, pendapatan, kondisi tempat tinggal, dukungan sosial dan jaringan sosial.Pada umumnya, warga lanjut usia menghadapi kelemahan, keterbatasan dan ketidakmampuan sehingga kualitas hidup pada lanjut usia menjadi menurun.Tetapi, segala potensi yang dimiliki oleh lansia bisa dijaga, dipelihara, dirawat dan dipertahankan bahkan diaktualisasikan untuk mencapai kualitas hidup lansia yang optimal (optimum aging). Kualitas hidup lansia yang optimal bisa diartikan sebagai kondisi fungsional lansia berada pada kondisi maksimum atau optimal sehingga memungkinkan mereka bisa menikmati masa tuanya dengan penuh makna, membahagiakan, berguna dan berkualitas.
7. Faktor penentu kualitas hidup
Hidup lansia yang berkualitas merupakan kondisi fungsional lansia pada kondisi optimal sehingga mereka bisa menikmati masa tuanya dengan penuh makna,membahagiakan dan berguna. Ada beberapa faktor yang menyebabkan seorang lansia untuk tetap bisa berguna dimasa tuanya, yaitu :
1. Kemampuan menyesuaikan diri dan menerima segala perubahan dan kemunduran yang dialami.
2. Adanya penghargaan dan perlakuan yang wajar dari lingkungan lansia   tersebut.
3. Lingkungan yang menghargai hak-hak lansia serta memahami kebutuhan dan kondisi psikologis lansia dan tersedianya media atau sarana bagi lansia untuk mengaktualisasikan potensi dan kemampuan yang dimiliki.
Penelitian menemukan,faktor usia mempunyai hubungan yang secara statistik signifikan dengan kualitas hidup. Lansia yang berusia 70 tahun ke atas memiliki kemungkinan untuk berkualitas hidup lebih buruk dari pada lansia berusia kurang dari 70 tahun. Semakin tua umur semakin buruk kualitas hidup.Hal ini di sebapkan karena dengan bertambahnya umur terdapat penurunan fisik,perubahan mental, perubahan psikososial antara lain pensiun, akan kehilangan finansial, status, teman atau kenalan, pekerjaan atau kegiatan, merasakan atau sadar akan kematian, perubahan dalam cara hidup seperti kesepian,hidup sendiri, perubahan ekonomi, penyakit kronis dan ketidak mampuan, hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik.
8. Kualitas hidup lansia yang menggunakan gigitiruan
Menurut penelitian menyimpulkan bahwa lansia yang menggunakan gigitiruan dapat berpengaruh terhadap kualitas hidup. Berikut ini penelitian yang pernah dilakukan pada  lansia pengguna gigitiruan oleh Sinta Winarso dalam Program Pendidikan Dokter Spesialis (2010) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna pada kualitas hidup sebelum dan sesudah pemakaian gigitiruan. Pada lansia penggunaan gigitiruan sangat penting untuk memperbaiki keadaan agar tidak menjadi lebih parah. Dalam pemenuhan kesehatan pada umumnya dan kesehatan gigi dan mulut khususnya terutama untuk mempertahankan fungsi kunyah diperlukan gigitiruan. Gigitiruan yang biasanya disebut protesa bisa dalam bentuk gigi tiruan cekat (fixed) ataupun gigi tiruan lepasan (removable). Namun, pembuatan gigi tiruan tersebut dapat dikatakan secara ekonomi membutuhkan biaya tambahan yang relatif cukup mahal
9. Kualitas hidup lansia yang tidak menggunakan gigitiruan
Kesehatan mulut yang buruk berdampak negatif terhadap kualitas hidup pada usia lanjut, dan membutuhkan program kesehatan mulut secara intensif. Mengganti gigi yang hilang dengan gigitiruan bagi lansia sangat penting karena lansia dengan kehilangan gigi geligi dan tidak diganti maka akan mempengaruhi proses pengunyahan, berbicara dan estetika sehingga berpengaruh terhadap menurunnya kualitas hidup.
10. Hubungan karies gigi dengan kualitas hidup lansia
Penyakit mulut merupakan salah satu kondisi kronik yang paling banyak dijumpai pada lansia terutama pada karies gigi. Pada keadaan mulut yang buruk, misalnya banyaknya gigi yang hilang akibat karies yang tidak dirawat maka akan mengganggu fungsi, dan aktivitas rongga mulut sehingga akan mempengaruhi status gizi serta akan berdampak pada kulaitas hidup terutama pada lansia. Meningkatnya usia dihubungkan dengan meningkatnya karies gigi pada lansia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perbaikan pelayanan BPJS untuk mendukung program pelayanan kesehatan

                                        Pemerintah menambah kuota Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JK) yang ditanggung...